1.
Pemanduan Wisata
Dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat lebih mengenal istilah guide daripada pemandu wisata
maupun pramuwisata. Guide selalu dikaitkan dengan “orang bule, turis”
(wisatawan). Setiap orang yang menemani wisatawan makan di restoran, mengantar
wisatawan mengunjungi objek wisata, menonton pertunjukan, belanja di souvenir
shop, dan lain-lain selalu dikonotasikan sebagai guide. Untuk itulah,
pertama-tama perlu kita pahami apa dan siapa sebenarnya pramuwisata itu.
Pramuwisata (guide) pada
hakekatnya adalah seseorang yang menemani, memberikan informasi dan bimbingan
serta saran kepada wisatawan dalam melakukan aktivitas wisatanya. Aktivitas
tersebut, antara lain mengunjungi objek dan atraksi wisata, berbelanja, makan
di restoran, dan aktivitas wisata lainnya dan untuk itu ia mendapatkan imbalan
tertentu.
Penting pula untuk
diketahui bahwa tidak semua orang yang menemani wisatawan itu disebut sebagai
pramuwisata, karena masih ada profesi lain yang kegiatannya berhubungan dengan
wisatawan, antara lain sebagai berikut :
1)
Penterjemah (Interpreter)
Penerjemah adalah
seseorang yang bertugas menerjemahkan bahasa tertentu ke dalam bahasa yang
dikehendaki oleh wisatawan. Ia hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh
orang lain atau menjelaskan percakapan dalam suatu bahasa tertentu.
2)
Penerima Tamu (Hostess)
Penerima tamu adalah
seseorang yang bertugas menjemput tamu di bandara, pelabuhan laut, stasiun atau
terminal serta hotel atau memberikan ucapan selamat jalan kepada tamu yang akan
kembali ke tempat asal atau melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Kegiatannya,
antara lain memberi ucapan selamat datang dengan mengalungkan rangkaian bunga,
membantu tamu pada saat pemeriksaan keimigrasian dan bea cukai, menghubungkan
atau memperkenalkan tamu dengan orang-orang tertentu.
3)
Pengawal atau Pendamping
(Escortist)
Pengawal adalah seseorang
yang bertugas mendampingi wisatawan dalam berbagai aktivitas, seperti tur,
belanja, pertemuan, termasuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi. Ruang
lingkup kegiatan Escortist lebih luas dibandingkan dengan pramuwisata atau profesi
sejenis lainnya.
1)
Penggolongan Pramuwisata
Pramuwisata dapat dikelompokan sesuai dengan sudut pandang sebagai berikut:
a.
Beradasarkan ruang lingkup kegiatannya.
1.
Transfer Guide: Transfer guide adalah pramuwisata yang kegiatannya menjemput wisatawan di
bandara, pelabuhan laut, stasiun atau terminal menuju ke hotel atau sebaliknya
atau mengantar wisatawan dari satu hotel ke hotel lainnya
2.
Walking Guide/Tour Guide: Walking guide adalah pramuwisata yang kegiatannya memandu wisatawan dalam
suatu tour
3.
Local/Expert Guide: Local guide adalah pramuwisata yang kegiatannya khusus memandu wisatawan
pada suatu objek atau transaksi wisata tertentu, misalnya museum, wisata agro,
river rafting, goa, gedung bersejarah, dan lain-lain
4.
Common Guide: Common guide adalah pramuwisata yang dapat melakukan kegiatan baik
transfer maupun tour
5.
Driver Guide: Driver guide adalah pengemudi yang sekaligus berperan sebagai Pramuwisata.
Ia bertugas mengantarkan wisatawan ke objek atau atraksi wisata yang
dikehendaki sekaligus memberikan informasi yang diperlukan. Tak jarang pula
seseorang pramuwisata pengemudi ikut turun ke objek untuk memberikan penjelasan
tentang objek tersebut jika tidak ada local guide. Kadang-kadang ia juga
menemani wisatawan saat berbelanja atau makan. Jadi, pada dasarnya driver guide
menjalankan dua fungsi, yakni sebagai pengemudi dan pramuwisata.
b.
Berdasarkan Status
1.
Payroll Guide: Payroll Guide adalah
pramuwisata yang berstatus sebagai pagawai tetap perusahaan perjalanan dengan
mendapat gaji tetap di samping komisi dan tip yang diterima dari wisatawan
2.
Part Timer/Freelance
Guide: Part Timer/Freelance
guide adalah pramuwisata yang bekerja pada suatu perusahaan perjalanan untuk
kegiatan tertentu dan dibayar untuk tiap pekerjaan yang dilakukan, serta tidak
terikat oleh suatu perusahaan perjalanan tertentu dan bebas melakukan
kegiatannya sesuai permintaan wisatawan atau perusahaan perjalanan lain yang
membutuhkannya
3.
Member of Guide
Association: Member of guide
association adalah pramuwisata yang berstatus sebagai peserta dari suatu
asosiasi pramuwisata dan melakukan kegiatannya sesuai dengan tugas yang
diberikan oleh asosiasi tersebut
4.
Government Officials: Government officials adalah pegawai pemerintah yang bertugas untuk
memberikan informasi kepada tamu tentang suatu aktivitas ,objek, gedung, atau
suatu wilayah tertentu
5.
Company Guide: Company guide adalah karyawan sebuah perusahaan yang bertugas memberikan
penjelasan kepada tamu tentang aktivitas atau objek perusahaan.
c.
Berdasarkan Karakteristik
Wisatawan Yang Dipandu
1.
Individual Tourist Guide: Individual tourist guide adalah pramuwisata yang khusus memandu wisatawan
individu
2.
Group Tour Guide: Group tour guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan rombongan
3.
Domestic Tourist Guide: Domestic tourist guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan
nusantara/ domestik
4.
Foreign Tourist Guide: Foreign tourist guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan mancanegara
2)
Peranan Pramuwisata
Pramuwisata adalah orang yang pertama kali dijumpai oleh wisatawan dalam rangka
mewujudkan harapan dan impian atas tour yang telah dibayarnya. Wisatawan
bagaikan seorang bocah kecil di tengah hiruk pikuknya pasar. Ia tidak tahu
harus melangkah kemana, ia membutuhkan bimbingan untuk mendapatkan apa yang
diinginkannya. Adalah tugas Pramuwisata untuk menemani, mengarahkan,
membimbing, menyarankan wisatawan di tengah-tengah ketidaktahuannya itu.
Wajarlah jika wisatawan mempercayakan aktivitasnya kepada Pramuwisata, karena
ia yang lebih tahu dan berpengalaman. Maka jadilah Pramuwisata itu sebagai teman
perjalan bagi wisatawan. Sebagai teman yang baik maka akan sangat ironi jika seorang
pramuwisata memanfaatkan ketidaktahuan wisatawan untuk mengail keuntungan untuk
diri sendiri, misalnya dengan menaikan harga barang yang dibeli wisatawan,
memaksa untuk memberikan imbalan lebih, dan sebagainya.
Dalam skala yang lebih
luas pramuwisata adalah duta bangsa atau setidaknya duta daerah tempat ia
melakukan tugasnya. Apa yang diekspresikan oleh pramuwisata dianggap oleh
wisatawan sebagai cerminan karakter masyarakat setempat, demikian pula apa yang
disampaikan oleh pramuwisata akan dipercaya oleh wisatawan sebagai pengetahuan
yang akan selalu diingat hingga kembali ke tempat asal. Mengingat hal tersebut,
maka seorang pramuwisata hendaknya dapat memberikan informasi dengan benar dan
baik menyangkut negara, kota, maupun suatu desa, objek wisata, budaya, dan lain
sebagainya.
3)
Persyaratan Pramuwisata
Pramuwisata adalah
seseorang yang memegang peranan penting dalam kegiatan tur maupun transfer. Ia
menjadi tumpuan harapan wisatawan, perusahaan yang mempekerjakannya, bahkan
daerah atau negara tempat ia bekerja. Untuk itulah, ia harus memenuhi
persyaratan tertentu agar dapat mengemban amanat yang demikian berat secara
profesional. Persyaratan tersebut menyangkut hal-hal yang bersifat fisik maupun
psikis:
1.
Syarat fisik/Penampilan
Pramuwisata: Pakaian dalam pengertian
ini mengandung makna yang luas, tidak sekedar baju, celana, rok, sendal, dan
sebagainya akan tetapi keseluruhan yang tampak dari luar diri seseorang itu.
Secara manusiawi kesan seseorang terhadap orang lain pertama-tama biasanya dipengaruhi
oleh penampilan orang yang dihadapi tersebut. Sebagai petugas yang pertama kali
berhubungan dengan wisatawan saat penyelenggaraan tur, maka pramuwisata harus
dapat berpenampilan secara maksimal, karena apa yang ditampilkan pertama kali
itu akan berdampak terhadap kesan wisatawan selanjutnya
2.
Syarat Psikis/Kepribadian
Pramuwisata: Secara teori yang
dimaksud dengan kepribadian adalah integritas psiko-fisik sebagai resultan dari
hereditas, lingkungan dan kematangan yang bersifat unik dan dinamis serta
berbeda satu dengan yang lainnya. Jelasnya, kepribadian lahir karena perpaduan
tiga faktor, yakni keturunan, lingkungan atau pergaulan, dan waktu atau
kematangan. Ketiga unsur ini saling berkaitan dalam membentuk satu wujud
kepribadian. Karena sifatnya yang spesifik, maka setiap orang memiliki
kepribadiannya masing-masing.
Menurut ilmu jiwa,
kepribadian seseorang dapat berkembang karena dua hal, yaitu bakat dan didikan.
Kepribadian karena faktor bakat sulit untuk diubah atau diciptakan, akan tetapi
kepribadian itu dapat pula dikembangkan melalui proses pendidikan. Agar dapat
mengembangkan kepribadian yang menarik maka seseorang pramuwisata hendaknya
menampilkan sifat-sifat: ( penuh perhatian, ketajaman daya ingatan, pandai
bergaul, periang, jujur dan dapat dipercaya, penuh inisiatif, humoris, suka
menolong, empati, pemimpin yang baik)
2. Kode Etik Pramuwisata
Kode etik Pramuwisata
Indonesia ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah Nasional I Himpunan
Pramuwisata Indonesia dengan Keputusan Nomor 07/MUNAS.I/X/1988, meliputi
hal-hal sebagai berikut:
1.
Pramuwisata harus mampu
menciptakan kesan penilaian yang baik atas daerah, negara bangsa, dan
kebudayaan
2.
Pramuwisata dalam
menjalankan tugasnya harus mampu menguasai diri, senang, segar, rapi, bersih
serta berpenampilan yang simpatik (menghindari bau badan, perhiasan, dan parfum
yang berlebihan)
3.
Pramuwisata harus mampu
menciptakan suasana gembira dan sopan menurut kepribadian Indonesia
4.
Pramuwisata harus mampu
memberikan pelayanan dan perlakuan yang sama kepada wisatawan dengan tidak
meminta tip, tidak menjajakan barang dan tidak meminta komisi
5.
Pramuwisata mampu memahami
latar belakang asal usul wisatawan serta mengupayakan untuk meyakinkan
wisatawan agar mematuhi hukum, peraturan, adat kebiasaan yang berlaku dan ikut
melestarikan objek
6.
Pramuwisata mampu
menghindari timbulnya pembicaraan serta pendapat yang mengundang perdepatan
mengenai kepercayaan, adat istiadat, agama, ras dan sistem politik sosial
negara asal wisatawan
7.
Pramuwisata berusaha
memberikan keterangan yang baik dan benar. Apabila ada hal-hal yang belum dapat
dijelaskan maka pramuwisata harus berusaha mencari keterangan mengenai hal
tersebut dan selanjutnya menyampaikan kepada wisatawan dalam kesempatan
berikutnya
8.
Pramuwisata tidak
dibenarkan mencemarkan nama baik perusahaan, teman seprofesi dan unsur-unsur
pariwisata lainnya
9.
Pramuwisata tidak
dibenarkan untuk menceritakan masalah pribadinya yang bertujuan untuk
menimbulkan rasa belas kasihan dari wisatawan
10.
Pramuwisata saat
perpisahan mampu memberikan kesan yang baik agar wisatawan ingin berkunjung
kembali
1)
Hubungan Pramuwisata
dengan Perusahaan dan Organisasi Terkait
Pramuwisata dapat
dikatakan sebagai jantung dari sebuah tur atau transfer sebab ia adalah
seseorang yang harus dapat memompa dan menghidupkan suasana sehingga wisatawan
benar-benar dapat memperolah pengalaman menarik sebagimana diharapkan. Oleh
karenanya Pramuwisata harus memahami organ atau komponen lain yang dapat
membentuk pengalaman-pengalamanitu. Untuk itulah penting baginya menjalin
hubungan yang baik dengan perusahaan serta organisasi terkait dengan tujuan,
antara lain sebagai berikut
1.
Mendapatkan informasi yang
akurat dari sumber yang kompeten
2.
Mengetahui perkembangan
terkini atas informasi yang disampaikan
3.
Menjalin komunikasi yang
lebih baik dengan perusahaan dan organisasi terkait
Hubungan yang baik
tersebut pada akhirnya akan bermuara pada efektifitas dan efisiensi rencana
pemanduan yang dibuat serta tercapainya pemanduan yang berkualiatas. Adapun
perusahaan dan organisasi yang erat kaitannya dengan kegiatan Pramuwisata
antara lain adalah: (perusahaan perjalanan, Himpunan Pramuwisata Indonesia/HPI,
Association of Indonesian Travel Agencies/ASITA, objek dan atarksi wisata, toko
cinderamata, Hotel dan Restaurant, Perusahaan transportasi, Pemerintah).
2)
Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh Pramuwisata
Agar dapat melaksanakan
kegiatannya dengan baik, maka seorang pramuwisata harus membekali dirinya
dengan pengetahuan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas dalam kegiatan tersebut.
Secara umum pengetahuan
yang harus dimiliki oleh seorang pramuwisata meliputi pengetahuan tentang diri
sendiri, pengetahuan tentang wisatawan dan pengetahuan tentang kegiatan yang
dilakukan,
antara lain yakni:
1.
Sumber Informasi
Informasi yang dibutuhkan
oleh pramuwisata haruslah digali dari sumber-sumber yang benar-benar relevan
dan dapat dipercaya sehingga informasi yang didapat benar-benar berkualitas dan
memberikan manfaata sebagaimana diharapkan, sumber informasi bagi pramuwisata
antara lain adalah: (pengalaman pribadi, penyedia fasilitas, kantor pemerintah,
organisasi/asosiasi, perpustakaan, media massa).
2.
Pembaruan Informasi
Salah satu ciri informasi
yang berkualitas adalah Up to date atau terkini yang mengandung makna bahwa
informasi tersebut merupakan kondisi yang paling akhir dari apa yang
diinformasikan. Untuk mendapatkan informasi terkini pramuwisata harus
senantiasa memperbaharuinya dengan selalu mengikuti perkembangannya melalui
sarana-sarana yang tersedia.
Beberapa informasi yang sering
mengalami perubahan dan perlu mendapat perhatian utama untuk dilakukan
pembaharuan antara lain kurs mata uang, tanggal, waktu, data, statistik,
temperatur udara, kondisi politik, dan lain-lain.
Sarana yang dapat
dipergunakan untuk memperbaharui informasi, antara lain sebagai berikut:
a.
Mengikuti seminar, kursus
singkat, pelatihan-pelatihan, talk show
b.
Membaca, baik dalam bentuk
buku panduan, artikel, majalah dan surat kabar, brosur, maupun media cetak yang
lain
c.
Mengunjungi situs internet
d.
Melibatkan diri dalam
kegiatan organisasi profesi
e.
Mengunjungi
pameran-pameran
f.
Mengunjungi dan
mendengarkan informasi dari personel perusahaan perjalanan, hotel, restoran,
transportasi, objek dan atraksi wisata maupun juga wisatawan
3.
Teknik Berbicara:
Berbicara bagi seorang pramuwisata
adalah suatu seni penyampaian informasi yang dapat menjadi daya tarik
tersendiri bagi yang mendengarkannya. Dilihat dari cara penyampaiannya maka
bahasa yang digunakan dalam berbicara dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a.
Bahasa Lisan: Yaitu berbicara dengan menggunakan lisan
sebagai sarananya. Informasi disampaikan melalui simbol-simbol suara saja, akan
tetapi berbicara juga merupakan seni, yang menarik dan dapat membangkitkan
minat wisatawan untuk menikmati informasi yang disampaikan. Unsur-unsur yang
harus dikuasai agar dapat berbicara dengan bahasa lisan secara baik adalah:
(kosa kata, tata bahasa dan teknik suara)
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam penggunaan bahasa lisan antara lain:
1.
Berbicara pada waktu yang
tepat
2.
Tunjukan kesan ramah
selama berbicara
3.
Hindari penggunaan bahasa
dan logat daerah, kecuali jika bahasa tersebut dijadikan sebagai materi
pemanduan
4.
Bersikap dengan baik
selama berbicara
5.
Padukan bahasa lisan
dengan bahasa tubuh secara harmonis
b.
Bahasa Tubuh: Menurut keterangan para ahli bahwa dalam ketrampilan berkomunikasi apa
yang kita katakan pentingnya hanyalah 7%, bagaimana kita mengatakan 38% dan
bahasa tubuh pentingnya adalah 55% (Peter Thomson,1997:57). Hal ini dapat
dipahami karena pada umumnya pendengar lebih percaya terhadap apa yang mereka
lihat dari pada apa yang mereka dengar, dan bahasa tubuh adalah kenyataan yang
mereka lihat pada saat informasi diterima. Unsur-unsur bahasa tubuh meliputi :
(penampilan, gerakan tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata)
4.
Pelayanan Transfer
Transfer adalah kegiatan
perpindahan wisatawan dari satu tempat ke tempat lain. Tempat-tempat yang
dimaksud dapat berupa airport, pelabuhan, terminal maupun hotel. Dilihat dari
asal dan tujuan perpindahan tersebut maka transfer dapat dibedakan menjadi:
a.
Transfer in atau Arrival
Transfer: Adalah kegiatan
penjemputan tamu dari tempat kedatangan (airport, pelabuhan atau terminal)
untuk dibawa dan melakukan check in di suatu hotel
b.
Transfer out atau
Departure Transfer: Adalah kegiatan
pengantaran tamu dari hotel ke tempat keberangkatan (airport, pelabuhan atau
terminal) untuk kembali ke tempat asal atau melanjutkan perjalanan ketempat
lain
c.
Transfer Hotel: Adalah kegiatan pengantaran kepindahan tamu dari hotel yang satu ke hotel
yang lain karena sebab-sebab tertentu baik atas permintaan tamu sendiri atau
keinginan pihak hotel
d.
Intercity Transfer: Adalah kegiatan pengantaran tamu dari satu kota ke kota lain. Adakalanya
dalam perjalanan selama transfer tersebut diselingi dengan kegiatan tur.
5.
Pelayanan Tour
Tour atau wisata adalah
kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatant ersebut yang dilakukan secara
sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
(Undang-undang Nomor 9 thn 1990, tentang Kepariwisataan).
Tur yang dilakukan dalam
waktu kurang dari 24 jam disebut ekskursi, sedangkan yang lebih dari 24 jam
diistilahkan dengan wisata paket. Wisata paket pada dasarnya adalah rangkaian
dari beberapa eksekursi.
Rincian tugas yang harus
dilakukan pramuwisata sebelum tur dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a.
Teliti guide order,
terutama tentang nama wisatawan atau rombongan, jumlah, nama hotel dan nomor
kamar, pesawat dan nomer penerbangan, perkiraan waktu keberangkatan
b.
Hubungi pengemudi dan cek
kesiapan kendaraan
c.
Siapkan uang yang
diperlukan untuk keperluan tour
d.
Pastikan segala
perlengkapan telah siap sebelum berangkat
e.
Perkirakan waktu berangkat
yang sesuai dengan EDT sehingga tidak terjadi keterlambatan
6.
Pelaporan
Setelah semua rangkaian
kegiatan tur dilaksanakan maka pramuwisata harus melaporkan seluruh kegiatannya
kepada perusahaan perjalanan yang memberinya tugas pemanduan. Laporan ini akan
bermanfaat baik bagi pramuwisata sendiri maupun bagi perusahaan perjalanan yang
mempekerjakannya. Bagi pramuwisata laporan dapat dipakai sebagai dasar untuk
menuntut hak atas pekerjaan yang telah dilakukan serta alat evaluasi bagi
pelaksanaan tugas berikutnya. Sedangkan bagi perusahaan, laporan ini bermanfaat
sebagai alat kontrol penyelenggaraan wisata serta untuk mengindikasi hal-hal
penting sebagai masukan untuk penyelenggaraan tur yang lebih baik di masa yang
akan datang. Ada dua hal yang perlu dilaporkan oleh pramuwisata yaitu laporan
kegiatan dan laporan keuangan.
7.
Penanganan masalah
Itinerary yang telah
disusun sebelum tut dilaksanakan adalah sebuah rencana yang diharapkan dapat
dilaksanakan sesuai dengan apa yang disebutkan didalamnya, namun tidak menutup
kemungkinan terjadinya penyimpangan atas program tersebut.
Penyimpanan dapat terjadi
karena kondisi yang berada di luar jangkauan manusia seperti banjir, kerusuhan
massa. Kondisi tersebut mengakibatkan kegiatan tur tidak dapat dilaksanakan
sebagaimana direncanakan. Penyimpangan dapat pula terjadi karena unsur
kesengajaan baik oleh wisatawan sendiri maupun oleh pramuwisata.
Adapun cara menangani
masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Apabila penyimpangan
terjadi karena kondisi di luar jangkauan manusia maka pramuwisata harus
merundingkan kondisi yang terjadi dengan wisatawan atau tour leader serta
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan
b.
Apabila penyimpangan
terjadi karena unsur kesengajaan maka harus dijelaskan alasannya serta
kompensasi atas penyimpangan. Jika hal tersebut atas permintaan wisatawan maka
tidak merupakan keharusan bagi pramuwisata untuk memberikan kompensasi atas penyimpangan
yang dilakukan.
Hal penting yang perlu
diingat oleh pramuwisata bahwa untuk setiap keputusan alternatif yang diambil
dalam menyelesaikan penyimpangan pelayanan harus didukung dengan bukti tertulis
yang disetujui oleh bersama antara pramuwisata dan wisatawan
8.
Kehilangan:
Kehilangan dapat berupa
kehilangan barang maupun kehilangan peserta wisatawan. Kehilangan barang dapat
berupa barang bawaan, paspor, uang, tiket perjalanan. Kehilangan dapat terjadi
di airport, terminal atau pelabuhan, hotel, atau di tempat-tempat lain.
Bentuk bantuan yang
diberikan oleh pramuwisata tergantung dari tempat kejadian kehilangan.
Kehilangan yang terjadi di airport menuntut pramuwisata lebih aktif memberikan
bantuan pencarian dibandingkan dengan kehilangandi hotel karena hotel telah
memiliki prosedur sendiri atas kasus kehilangan.
9.
Kecelakaan:
Apabila dalam perjalanan
terjadi kecelakaan maka hal-hal yang perlu dilakukan oleh pramuwisata, antara
lain:
a.
Memberikan pertolongan
pertama kepada wisatawan yang mengalami luka ringan
b.
Mengantarkan wisatawan ke
puskesmas atau ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan
c.
Memberikan keterangan yang
diperlukan oleh pihak kepolisian atas kejadian kecalakaan tersebut.
Dalam hal ini sudah barang
tentu diperlukan biaya untuk penyelesaikan pengobatan di puskesmas atau ke
rumah sakit, sehingga pramuwisata harus mengkomunikasikannya kepada perusahaan
yang mempekerjakannya untuk penyelesaian lebih lanjut
10. Sakit atau Meninggal
Bagi wisatawan yang
menderita penyakit tertentu maka sebelum tour berlangsung diinformasikan untuk
membawa obat pribadi yang diperlukan selama tour. Akan tetapi pramuwisata harus
menyiapkan obat-obat tertentu untuk memberikan pertolongan sementara jika
wisatawan mengalami sakit di perjalanan. Obat-obatan yang dapat dibawa antara
lain: paracetamol, aspirin, anti alergi dan lain-lain.
Seandainya wisatawan sakit
di perjalanan maka:
a.
Tanyakan apakah yang
bersangkutan membawa atau harus minim obat tertentu untuk meredakan sakitnya
b.
Berikan pertolongan
pertama semampunya
c.
Jika perlu berikan
obat-obatan yang dapat dikonsumsi secara umum untuk sakit tertentu misalnya
influensa, panas, alergi
d.
Apabila sakitnya tidak
dapat ditangani maka rujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat
e.
Laporkan ke perusahaan
Apabila sakitnya terjadi
di hotel, maka pihak hotel akan menanganinya dengan memberikan pertolongan
pertama, memanggil dokter atau apabila parah maka hotel akan merujuknya ke
rumah sakit.
Jika wisatawan meninggal
maka:
1.
Buat peserta lain agar
tidak panik
2.
Panggil ambulance dan
kirim ke rumah sakit. Jika memanggil ambulance tidak mungkin maka gunakan
kendaraan tur
3.
Rundingkan dengan
wisatawan atau tur leader untuk kegiatan berikutnya, dilanjutkan atau tidak
4.
Laporkan ke perusahaan.
11. Keluhan Wisatawan
Keluhan wisatawan tidak
terbatas pada pelaksanaan panduan seorang pramuwisata, aka tetapi menyangkut
kesuluruhan fasilitas dan pelayanan yang didapat selama melakukan tur dan
pramuwisata harus dapat menanganinya secara profesional.
Untuk dapat menangani
keluhan secara profesional, maka harus diketahui terlebih dahulu jenis keluhan
tersebut. Pada dasarnya keluhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.
Keluhan Sejati: Adalah keluhan yang timbul karena kondisi fasilitas dan pelayanan
berdasarkan standar umum tidak memuaskan arau tidak sesuai dengan perjanjian
sebelumnya
2.
Keluhan biasa: Adalah keluhan yang timbul karena pengaruh cara pandang wisatawan terhadap
fasilitas atau pelayanan yang diterima. Dalam hal ini antara wisatawan yang
satu dengan yang lain mungkin saja berbeda penilaiannya terhadap fasilitas atau
pelayanan yang sama.
Apapun jenis keluhannya,
pramuwisata harus dapat menangani secara arif dan bijaksana dengan menggunakan
prinsip-prinsip: (mendengarkan, memahami, meneliti, menangani, minta maaf)
Setiap keluhan yang
terjadi seharusnya dilaporkan secara tertulis kepada perusahaan yang akan
bermanfaat bagi perbaikan pelayanan dan mengantisipasi munculnya keluhan yang
sama di masa yang akan datang. Secara sedarhana laporan tersebut dapat dibuat
dengan menggunakan blanko pada contoh berikut
Menjadi seorang
pramuwisata yang profesional bukanlah hal yang mudah, namun tidaklah mustahil
untuk dilakukan. Profesionalisme itu merupakan akumulasi dari semua unsur yang
seharusnya dimiliki oleh seorang pramuwisata. Unsur itu berupa modal dasar yang
ada dalam dirinya sendiri yang dapat membangkitkan semangat untuk tangap
terhadap lingkungan di luar dirinya, yaitu wisatawan dan kegiatan yang
dilakukan.
No comments:
Post a Comment